Puisi di dalam Handphone

Puisi di dalam Handphone

puisi ditulis sepanjang jalan
handphone menyimpan peristiwa
kenangan menjelma kata-kata
di dalam puisi
di dalam handphone yang menyala 24 jam

Posted with WordPress for BlackBerry.

Sajak-sajak Nanang Suryadi: NeGErI YaNG MeNAngIs

Sajak-sajak Nanang Suryadi: NeGErI YaNG MeNAngIs

ALDORA MELUKIS KOTA (1)


aldora melukis kota, jemarinya memulas cat hitam dan merah pada kanvas yang lusuh, ada kegusaran yang memusar, pada wajah
“mengapa rusuh juga yang membakar kota-kota?”
kau mau minum kopi aldora? atau sebatang rokok
mungkin bisa hilangkan pening dalam kepala
aldora melukis kota, juga manusia tak jelas wajahnya merah hitam dipulasnya, dicampur baur, mungkin sebentuk luka
tanganmu kotor, aldora
jemari halus dan kuku putih tak berupa
:mengapa luka?
“mengapa bukan cinta!”
ALDORA MELUKIS KOTA (2)

aldora melukis kota. dengan jemarinya ia guratkan kota yang telah berubah. wajah-wajah manusia yang muram.
“berapa banyak rumah yang harus ditumbangkan, dora? berapa sawah berubah menjelma rumah mewah?”
kau tak menjawabnya dengan kata-kata. karena apa? (takutkah engkau untuk mengatakannya dengan mulutmu?)
aldora melukis kota. warna-warna memar tumpah ruah di kanvas. meledak juga tangisnya di lukisan kota yang terbakar!
cilegon, 1997
PEREMPUAN YANG MENJERIT

perempuan yang menjerit. adalah ibu melihat kanak yang marah membakar gedung  juga rumah ibadah. dengan kepedihan yang terpendam. sekian lama. siapa menyulut siapa. kerusuhan meledak di mana-mana. ( mobil-mobil terjungkal penuh asap dan api, perempuan diperkosa hingga mati, kepala manusia diarak di jalan-jalan, darah berceceran —hugh perutku mual! sungguh!)
“cinta! mengapa berlari?” aku bertanya
“adam, nuh, ibrahim menangiskah engkau?” ibu ganti bertanya
“cinta! mengapa berlari?”
ibu menatapku, tapi tatapnya adalah gelombang menghantam hatiku:
“kanak-kanakku, kalian semua bersaudara. kalian semua bersaudara. mengapa terus kau sulut kebencian di mana-mana?”

NEGERI TEROR
kau merasa dinding mendengarkan pembicaraan
mata-mata membayangi setiap gerak-gerik
sepertinya, telinga penguasa ada di mana-mana
menguping obrolan-obrolan kebosanan
ketakutan yang mencekam
ketika pistol teracung menempel di jidatmu
makian yang mana hendak dimuntahkan
kepada siksaan penuh teror
memasuki mimpi-mimpimu
Malang, 1998

SENDANG DRAJAT
bunga yang ditabur bawah pohonan
batu berserak, imaji kepurbaan
kolam kecil, janji kejayaan
sipa menyepi di tengah bumi
di dalam goa
alir air kecil sekali
hanya gemercik
menimpa batu kali
“nenek moyang, nenek moyang”, ada suara memanggil
aku lihat tarian kekhusukan
melawan ketakutan pada kekuatan tak terpahami
kesunyian ini begitu angker
hutan jati mengepung
batuan terjal angkuh menjulang
akar pohonan tersembul di permukaan
bau kembang bertebaran
sisa asap dupa
“apa yang diingini manusia, harta atau bahagia?”
6 September 1998

NEGERI YANG MENANGIS
beribu kata terlontar dari bibir gemetar: senja yang kaugugurkan dari tatapan perlahan tumbuh menjadi nyala. anak-anak berpaling dari masa lalu.
betapa sunyi. betapa sunyi. menyusuri nasib negeri sendiri. ada yang teramat sedih menderaskan airmata. ada yang teramat marah memuntahkan api.
“kuasa! kuasa!”
dan aku menggigil
menulis: indonesia!
Madiun, September 1998

NYANYIAN BUAT KANAK

 

Sungguh, di masa sulit ini
Aku ingat wajahmu,
Sebagai pengobat kegetiran
Binar mata, tawa mengekeh
Atau tangis pada dini hari
Luruhkan kesumpegan
Dari tangan-tangan yang mencoreti dinding rumah
Aku temukan lukisan terindah lahir dari kemurnian
Aku menimba kesejukan
Pada tatapan
Lebur darah keringatku
Di dalam dirimu
Madiun, 2 September 1998

Sila ditengok juga:

sajak-sajak: nanang suryadi ORANG YANG MERENUNG

sajak-sajak: nanang suryadi ORANG YANG MERENUNG

PRIBADI YANG TERBELAH

bercakap sebagai karib yang selalu menghinakan satu sama lain
melecehkan, bertempur dalam ruang dan waktu: diri!

ada berapa kepribadian yang hadir pada dirimu?
bertolak belakang paradoksal
atau saling melengkapi sebagai harmoni

sekular atau tak
dikotomis atau bukan

engkau hadir mencoba untuk tidak goyah, utuh mengatakan pada dunia

tapi tak bisa
senantiasa ada dialektik

senantiasa ada keinginan-keinginan manusia
yang tak terpadamkan , sepertinya…..

Malang, 7 Juni 1997
ORANG YANG MERENUNG
buat: cak zen

tanda yang membayang pada bola mata
adalah dunia berputaran dalam benak kepala
terbacalah kegundahan manusia merenungkan kehidupan
sebagai cerita tiada habis-habisnya

seperti juga ayat yang terbuka untuk ditafsirkan
alam mengajarkan rahasia-rahasia sebagai tanda-tanda

terbacakah juga di situ segala jawaban?

orang yang merenung membaca tanda-tanda
mencoba menyibak rahasia
tak usai juga

Malang, 02 Agustus 1997

 

JAMBANGAN RETAK


menderulah badai memporakan harapan yang disusun dalam hatinya
seseorang yang mencinta meletakkan bunga layu pada jambangan retak

kepada siapa kan disampaikan kegundahan
orang sunyi yang merindu menyimpan bayangan
menari-nari sebagai cerita tiada terlupakan

catatan pada buku menguning
abadikan kisah percintaan dan kesedihan

Malang, 02 Agustus 1997

 

SERAUT WAJAH MASA SILAM


menatapmu adalah menatap silam
dimana kutemukan bayangan menari

adakah kurindukan masa lalu kembali kini
pada senyum yang melambai
pada pesona cinta yang menjerat hati

raut wajah yang membayang pada kedua mataku
adalah sejarah yang hendak kutimbun dalam kelampauan
tapi tak!

kenangan itu tetap membayang

senyum itu mengapa menggoda diri
raut wajah itu mengapa melambai lagi

apakah manusia hidup dari kenangan demi kenangan
dan tak kunjung beranjak pergi

bayangan itu
menari-nari
o, menari- nari

Malang, 29 September 1997
CAHAYA MATA
angin kemarau
mendera tubuhku
panas dan berdebu

kala begini kurindu menatap wajahmu
sebagai kesejukan menyiram kegundahanku

wahai
betapa bening telaga
pada sepasang mata
mencahaya

Malang, 23 September 1997

 
SESEORANG YANG HENDAK MELUKIS


ada seraut wajah mencoba menyelinap ke dalam mimpiku sunyi,
o, kegundahan seorang lelaki membaca tanda-tanda
: siapakah yang telah merenggut hati?

kemudian, angan beterbangan menari-nari menuju cakrawala
ingin melukis serupa pelangi,
atau bunga-bunga yang bermekaran
atau ketakutan
atau mimpi-mimpi

(wahai, tangan yang gemetar, hati yang gemetar…
hendak melukis apa?)

mungkin hanya impian,
sekedar harapan di ujung malam
tak ada jawaban pasti!
Malang, 09 Oktober 1997
POTRET


di mana
kan dijejakkan kaki?

orang sendiri membaca diri
pada sunyi dipahatkan mimpi

menggeleparlah ia pada sepi
menuai kenangan-kenangan
menusuk ke lubuk hati

dalam puisi, sepertinya….
hanya sunyi
hanya sepi
hanya mimpi
terbubuh lewat jemari

orang sendiri membaca diri
tak henti-henti

Malang, 23-09-1997

 

TANYA


dari senyuman tertebar
adakah kegundahan?

dari cerita hari-hari kegembiraan, tawa dan cinta
adakah kesedihan dan rindu yang menikam?

dari cuaca yang terbaca dengan pikiran bersahaja
adakah mimpi-mimpi kita?

tanya demi tanya mengalir,
adakah jawaban?

Malang, 29 September 1997
OBROLAN DI WARUNG KOPI
bergelas kopi berbatang rokok terhidang. sebagai tanda. kehangatan itu
terjalin dari bualan tentang apa saja. (inginkah kau kenal diriku
seperti kau kenal dirimu sendiri?)

katamu: mari kita bicara. dari puntung berasap. kerumitan puisi. dan
tentang teman-teman yang sukar dimengerti maunya

(kataku: tidakkah kau tahu kitapun begitu. berlari sepanjang waktu
menolak pemastian demi pemastian. mencoba mengelak dari pola rekayasa.
mengeja diri tak henti-henti. menjadi rahasia tak henti-henti…)

Malang, September 1996

 

MENELPON SEORANG TEMAN


halo! apa kabar? masih adakah yang tersisa dari percakapan kemarin sore.
secarik kertas bergambar waru tertusuk anak panah. kau bidikkan
sungguh-sungguh atau bercanda saja?

katamu: “adakah yang sungguh-sungguh di sini?”

Malang, September 1996

SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI ORANG ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA

SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI ORANG ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA

PADA TEMARAM PERTARUHAN DIMAINKAN

di sudut sebuah pasar malam, bayangan tentang las vegas, macao, dan
crown melintas-lintas dalam benakku, seorang perempuan tua meraup coin
dari alas penuh nomer, pada temaram pertaruhan dimainkan, nasib baik
atau buruk penjudi kelas teri

di pojok yang lain, gambar ikan dan udang yang ditebak menyimbolkan apa?
selain penasaran yang minta dilunaskan, karena kekalahan menikam ulu
hati, memakilah, karena tiada mampu berbuat apa melihat segalanya
terjadi: upeti diselinapkan pada tangan siapa. namun adakah yang peduli,
karena pertaruhan terus dimainkan. hidup dan mati di meja kehidupan.

(sepertinya malam telah begitu larut, dalam benak kita menari-nari
dursasana dan sengkuni yang menang dadu. adakah kita pandawa yang
terusir ke hutan belantara?)
Malang, 1997

 

KINCIR DIAM SEBUAH PASAR MALAM
pada loket pasar malam tertulis: tutup, sampai ketemu esok hari. kuda
yang ditumpaki kanak berhenti, kincir diam menadahi kebekuan malam yang
mulai mengembun menyentuh rambut di kepalamu yang rontok satu-satu,
merenungkan apa? selain kebingungan manusia yang saling menyesatkan
dengan pertanyaan-pertanyaan —bualan kosong— melepaskan sesak dalam
dada. karena kebenaran, katamu, menjadi bahasa-bahasa langit, dan
teramat sulit untuk dieja.

maka sambil terpejam kaupun meremangkan tanya,”apa yang dibaca dari
tanda-tanda jalan raya, tulisan pada buku-buku sejarah, relief pada
candi-candi, selain manusia yang ingin membaca dirinya sendiri dengan
kejujuran atau pura-pura?”

Malang, 1997
ORANG-ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA
Meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta
benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti
maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke
waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan.
Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu
memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang
belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang
terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau
tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air
mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta
perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya?
Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang
mencampakkan orang–orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe
yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena
industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan
mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang
pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh
kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di
simpan di dalamnya .
Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah
siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan
membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak
menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban

Malang, 22 Juli 1997
SEORANG IBU DAN MIMBAR YANG DIROBOHKAN
siapakah yang menangis di situ. pada keriuhan orang-orang berteriak.
lemparan batu dan kobaran api. seorang ibu berdiri di samping mimbar
yang dirubuhkan.

betapa merah itu marah. betapa kelam itu hitam. betapa mendung itu mega.
betapa sedih engkau ibu?

Malang, 1996

 

ANAK YATIM PIATU PERADABAN
peradaban telah terbunuh. ayah bunda sejarah telah menjadi kutukan bagi
anak-anaknya. tertebaslah pohon dari akarnya. tertebaslah kita dari
kenangan.

teks-teks lama telah ditinggalkan, kehormatan-demi kehormatan
ditanggalkan. menjelmalah wajah coreng moreng, tak jelas siapa dirinya.
menjadi anak yatim piatu sejarah peradaban. terputus dari masa silam.
mencari jalan ke masa depan.

Cilegon, 1996
BERSAMA CERITA WAHYU
anak-anak muda yang menatap cerobong pabrik,
kantor penuh uang,
tambang emas permata sebagai sebuah masa depan
rasakan kecemburuan luar biasa

ketika pintu-pintu buat mereka tak pernah dibuka
sedangkan etalase menawarkan mimpi-mimpi yang harus dibeli

seteguk demi seteguk menelan kebencian,
berkobarlah api di dalam dadanya

karena kenyataan begitu pahit

berbutir pil dan minuman keras bersarang di perutnya

(dengan belati di tangan
menyergap rizki di tengah jalan!)

Malang, 2 Oktober 1996
SEBUTIR MATA
mengingat: w.t.

perempuan itu, istri seorang demonstran, berkata: karena perjuangan
harus dilanjutkan, kang mas, aku relakan sebutir mataku untukmu.
menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.
UCAPAN SELAMAT TIDUR
good night, my son

ke dalam tidurnya
anak-anakmu membawa cerita sore tadi, orang orang yang terjatuh,

derum sepeda motor, truk penuh manusia, dan juga bendera-bendera
warna-warna menjela di kedua mata,

anak-anak pun mengigau:
ibu, lihatlah betapa terang bintang, betapa rimbun pohon beringin,
ibu, mengapa itu banteng terluka
dan hampir mati?

Malang, Mei 1997
AMBISI
:o brolan bersama gustom

guratan itu sebagai idea yang bergulung-gulung membadai,
seperti juga ambisi manusia yang tak tertahankan,
hendak menjebol segala dengan penuh keyakinan.

namun, adakah kau terima juga kekalahan itu
dengan penuh rasa syukur
atau dendam membara dalam dada?

Malang, 3 Juni 1997
BUKU-BUKU YANG DITUMPUK DAN BERDEBU
buat: kinyur + gustom

berapa tokoh pada sejarah yang diusung dalam buku-buku. adakah gustom,
hakim, kinyur, wahyu, taufan, joko, hazim, kita semua di situ.
mengais-ngais sampah peradaban yang ditawarkan siapa saja.

seperti juga kondom yang dikampanyekan. orang-orang pun menawarkan
warna-warna bendera dan nama-nama.

buku – buku berdebu yang ditumpuk telah mengajarkan apa padamu.
mengajarkan kekuasaan yang busuk
dan kau ingin menggapainya?

Malang, 7 Juni 1997

CERITAKAN PADAKU TENTANG ANGGUR DAN REMBULAN
aku ingin menyapamu pada suatu senja, ketika kau akan bertolak ke sebuah
negeri asing
ceritakan saja padaku tentang anggur dan rembulan,
karena telingaku terlalu bising dengan makian kemiskinan dan peperangan,

atau nyanyikan saja untukku: selamat malam duhai kekasih
agar nyenyak tidurku, tak terganggu mimpi buruk tentang negeri ini
janganlah lagi kau ceritakan tentang korupsi yang membuatku ingin muntah
atau kolusi, atau manipulasi, atau penindasan, atau….ah, aku ingin
tertidur sekejap saja

Malang, 30 September 1997

PERASAAN KEHILANGAN
kemana perginya kejujuran
dulu ia berdiam di sini,

dalam dada penyair,
dalam puisi
kucari ia,

matamu bertutur apa,
adakah kejujuran di situ

pada tangis,
seorang gadis melemparkan kesah

pada tawa,
seorang lelaki melemparkan gundah

jalin menjalin hari
tak kunjung di jumpa

ia pergi,
dan aku merasa kehilangan

kau juga?
ORANG YANG MEMAHATKAN KENANGAN
seseorang melayarkan ingatan pada bayangan, menembus ruang waktu,
terbacalah pada telapak tangan garis kehidupan, meramalkan masa depan,
atau kejayaan masa silam? relief-relief pada batuan bercerita tentang
sebuah kenangan, abadikan mitos pada pahatan: “bertahktalah raja-raja
pada hati rakyat dengan kearifan, tersingkirlah penguasa zalim dari
nurani rakyat yang butuh keadilan”

suatu ketika orang-orang menuliskan cita-cita dan kegundahannya pada
lontar-lontar, sambil menembangkannya sebagai ajaran hidup. tataplah
huruf-huruf itu pada serat-serat tua, bacalah: jaman edan…

menarilah bayangan-bayangan: ke mana kita arahkan perahu ini. adakah
kita pewaris moyang gagah berani, mengarungi samudera dengan kapal
pinisi

bowo, tanto rabalah relief itu, sepertinya ada airmata moyang kita di
situ?

Malang, 17-24 Juli 1997

Sajak-Sajak Nanang Suryadi GELISAH MANUSIA

Sajak-Sajak Nanang Suryadi GELISAH MANUSIA

Kumpulan Puisi Manusia Gelisah

                           ANXIETAS PENYAIR
      buat: joko supardi
      sepertinya, kau rasakan juga dingin ini sebagai simbol kenangan kita,
      sebagaimana telah dirayakan kekalahan-demi kekalahan yang menikami
      tubuh. dan berderailah tawa atau tangis, karena airmata tetap membasah
      pada pelupuk mata. usahlah lagi ditanyakan untuk apa kita di sini,
      menikmati hari-hari membisu atau hiruk pikuk yang menggedor-gedor kepala
      dan dada. anxietas yang menggigilkanmu telah menciptakan cerita-cerita
      dalam pertemanan ganjil. sebagai seorang pertapa namun hendak
      menyetubuhi bintang dan rembulan. memanggil bapak dan ibu dengan
      keparauan kanak. kesunyian yang tak dimengerti artinya. juga sebuah
      cita-cita?
      Malang, 1997

OBSESI 

      buat: fatkhur
      kemana angka-angka itu dilemparkan
      karena kata-kata telah menyihir
      maka berkubanglah seorang laki-laki
      pada kegamangan.
      ada keinginan tak tersampaikan
      yang dicoretkan pada dinding kamar
      serta baris-baris sajak.
      Malang, 14 Juli 1997

SANG AKTOR

      buat: dema. a. jatmiko
      berperan apalagi kali ini. menjadi pencari yang tak sampai-sampai? atau
      seorang yang menjalani hari dengan biasa saja.
      sepertinya ia tetap seorang lelaki dengan kegalauan di benaknya, mencari
      sesuatu pada ruang dan waktu. menerka sebuah keabstrakan dengan pikiran
      kanak yang selalu ingin tahu.
      katamu: aku ingin mencoba melewati jalan ini, mencari sesuatu yang tak
      juga kutemu
      Malang, Juli 1997.

KOMEDI PUTAR

      bermainlah kanak pada keriangan,
      hidup berputaran atas bawah nikmatilah,
      kenangkan kuda dipacu penuh semangat,
      pada padang di mana umbu menulis syair,
      tertawalah kanak,
      sebelum permainan berakhir,
      sebelum lampu-lampu dimatikan,
      sebelum tersuruk engkau di bawah matahari
      Malang, 1997


PANGGUNG KECIL DI POJOK TAMAN

      inikah lambang itu, pada hiruk pikuk, ditawarkan puisi sebagai bacaan
      yang gaduh, dengan megaphone di tangan, teriakan dilantangkan
      sebagai pengasong pada pasar malam yang ramai, ditawarkan puisi yang
      penuh luka perih. namun tak ada yang mau membelinya. karena manusia
      takut dengan kenyataannya sendiri.
      panggung kecil di pojok taman. hadirkan bayang-bayang sebagai cermin
      buram.
      Malang, 13 Juli 1997

MENCARI SANGKURIANG

      aku kanak atau siapa saja yang bertanya dengan pikiran penuh legenda dan
      dongeng di dalam kepala, memanjat tangkuban perahu mencari sangkuriang
      nenek moyang yang dikutuk bunda. tak ada sangkuriang kujumpa, membendung
      citarum, menggenang situ bandung.
      bendungan jebol. memuntahkan birahi dalam hotel-hotel, cafe, discotik,
      vila-vila, rimbunan pohonan, serta merta kau tunjuk pula, jangan lupa:
      saritem!
      wahai, sepertinya telah kutemukan berjuta sangkuriang, mencari bunda ke
      mana–mana….
      Malang, 12 Juni 1997

HITUNGAN KEDUA PULUH EMPAT 

    hitungan ke dua puluh empat: melompat!
      memasuki ruang menaiki waktu yang melaju.
      tak direnungkan jugakah catatan-catatan yang begitu tebal.
      telah ditulis disitu ungkapan-ungkapan kejujuran,
      atau juga kepalsuan menipu diri sendiri.
      karena kecewa butuh penghiburan,
      karena sedih butuh ditumpahkan,
      karena tawa butuh dituntaskan.
      siap-siap…
      hitungan ke dua puluh empat: melompat!
      jangan lupa di depanmu ada menganga liang lahat
      Malang, 8 Juli 1997

MENEMUI ALDORA SUATU KETIKA

    di mana kan lagi ditemukan percakapan sore hari, ketika aldora
      menyelinap ke dalam lukisan seorang perempuan mencari bapak, dengan
      senyum, menyimpan pedih kerinduan mewarna langit, dengan jemari
      dipulaskan cerita getir bertahun tak berjumpa, ke mana pergi pelukis
      yang membelai rambut kanak?
      sambil tersenyum aldora bilang padaku: “aku ingin pergi mengelilingi
      dunia, menjelajahi sudut-sudut ruang, dimana kan ditanggalkan segala
      kepura-puraan”
      tergerai rambut sebahu, menatap matahari dengan senyum, simpan
      kegundahan dalam-dalam…
      disimpan jugakah cerita itu. dalam dada laki-laki. perempuan yang
      berharap, memanggilnya dengan kerinduan. karena cita-cita yang dibangun
      menjelang tidur, menyimpan tangis pada malam. mimpi yang diciptakan
      dihempaskan ke mana lagi?
      dan buku mana yang harus disembunyikan, karena kejujuran telah
      dituliskan. sebuah nama pada masa lalu seorang lelaki, yang
      menyimpannya dengan diam-diam. seperti juga cinta dan rindu yang tak
      tersampaikan, ke mana air mata itu hendak dialirkan. karena kegetiran
      telah menjadi batuan dalam rumah sejarah manusia. menyumpal dalam
      dada….
      Malang, Juli 1997

MENCATAT KESUNYIAN

      jauh ke dalam lubuk hatimu, aku telusuri kehampaan. sepertinya yang ada
      hanya ruang-ruang kosong: kenihilan akut (sebagai kebingungan mencari
      arti diri)
      “ke mana kita akan menuju?”
      engkau tertawa aku tertawa. mentertawakan dunia penuh air liur dan busa
      omong kosong.
      aku terdiam engkau terdiam. terpekur dalam kesunyian cakrawala. merenung
      diri kemana akan pergi
      dan kesunyian, kau mengertikah artinya?
      “tak tahulah…”
      Malang, 21 Agustus 1996

MENULISKAN SENJA YANG RUNTUH

      menuliskan senja yang runtuh, memecahkan kebisingan, menyelinapkan
      kesunyian,
      kemudian menarilah engkau, pada pertanyaan-pertanyaan purba,
      kenangan-kenangan
      yang dinyanyikan pada telinga-telinga terbuka,
      jangan menangis, katamu. karena airmata melarutkan kenangan ke dalam
      lautan hampa
      Malang, 2 Juni 1997

MATAHARI MENYALA DI MATAMU

      matahari menyala di matamu,
      sebagai cahaya yang menerangi semesta
      ” aku tak menyukai kegelapan!”
      Malang, 3 Juni 1997

GELEMBUNG LUDAH DAN KETERASINGAN YANG MENYILAUKAN

      bahasa yang dimuntahkan dari mulut,
      adalah keterasingan yang menyilaukan,
      kedua matamu dipejamkan,
      dalam angan segala bergalau,
      keinginan-keinginan manusia,
      naluri primitif,
      membaca tanda-tanda
      kemudian berhamburan dari mulutmu,
      gelembung ludah yang segera kan kan meletus
      dan menguap begitu saja
      mungkin cuma kenangan milik kita, menandai waktu lalu
      selebihnya?
      kita susun bahasa dari gelembung ludah
      mereka-reka masa depan
      Malang, 3 Juni 1997

KONTEMPLASI

      seru menyeru dalam dada
      kejujurankah yang bicara?
      katamu: “manusia adalah makhluk segala kemungkinan”
      terlempar aku ke dalam ruang kosong tak berpenghuni
      merasa asing membaca diri
      diamlah diam
      rasakan semesta meledak dalam kepala
      berjuta tanya
      berjuta jawab
      kembali pada diri sendiri….
      Malang,1996

HATIMU RAWAN MENYIMPAN MIMPI

      malam basah dan mengkhawatirkan
      hatimu rawan menyimpan mimpi
      coba guratkan pada kaki langit:
      harapan-harapan tak bertepi
      cakrawala angan tak berbatas
      sanggupkah engkau menggapai segala
      dengan tangan dan benak penuh rencana
      sanggupkah?
      sedang kekuatan bukan milikmu
      cuma!
      Malang, 22 April 1997

CATATAN MUSIM HUJAN

      hujan yang turun malam hari hantarkan dingin ke ruang ini,
      ada juga kerinduan dan kegalauan, menusuk-nusuk ke dalam dada
      bersama gemerisik radio, berbisik-bisik nyanyikan lagu lama
      “mengapa tetap tersimpan kesedihan?”
      hanya kebisuan yang menjawab tanya
      karena kepedihan sukar diceritakan sebabnya,
      karena bertumpuk kegalauan dalam alam bawah sadar,
      karena setiap saat memandang kenyataan senantiasa menikam
      ‘kau pemimpi. kau lebur dalam dunia ideamu sendiri…”
      Cilegon- Malang, 1997

UCAPAN SELAMAT JALAN

      buat: guru hazim amir
      manusia lahir,
      tumbuh berkembang
      dan mati; apa yang ditinggalkan?
      penyair datang
      dan pergi; di mana tanda dijejakkan?
      ketika doa diucapkan;
      semoga sampai selamat ke tempat tujuan
      kaupun tersenyum; amin.
      Malang, 31 Mei 1997

DENTING GITAR MENGOYAK MALAM

      masihkah tersimpan sejumput kerisauan,
      denting gitar mengoyak keheningan,,
      di malam kita terjaga, terasa gema dalam dada,
      bercerita apa, teman? sepertinya hanya pertanyaan-pertanyaan tak
      beralamat,
      pada siapa kan disampaikan jerit yang begitu parau, dari gitar putus dua
      senarnya,
      adakah pada angin yang mengendap di lorong gelap, pada dingin yang
      menusuk-nusuk,
      pada siapakah hendak kau sampaikan?
      hanya wajah yang terlihat setengah gelap setengah terang,
      sepotong wajah rasakan nyeri memendam ngeri,
      dalam dada terasa sunyi,
      ke mana suara itu kan sampai,
      wahai siapa lagi yang peduli?
    Malang, 31 Oktober 1996

Sila ditengok juga:

Puisi

Puisi

Puisi

MEMO PADA SUATU KETIKA
tiba-tiba kau datang mengirim pesan:
datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.
katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.
jangan lupa, saat itu
KAU BEGITU MENYEBALKAN
sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!
“tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi
batu…”
sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
itu, membuatku malu…

BUNGA SEKUNTUM
aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang
hitam itu, semakin bercahaya,
ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,
wajahku
ABSTRAKSI KENANGAN
lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,
seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,
tak jelas jelas canda atau petaka,
tak jelas nama atau bencana,
lalu, kau hapus segala kenangan,
begitu saja
ya, begitu saja
PADA AIRMATA
(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)
sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,
(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
aku, mencari cintamu)
sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan
mereka, mencari cahaya)
sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku…
cilegon, 1999
DEBU DI LEKUK BENANG
pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih
warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku
depok, 1999
EPISODE PINOKIO
boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang
punya banyak impian dan masalah
“dan berbunuhan”, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam
depok, 1999
STASI TAK TERHINGGA

      buat: eka budianta
tak hanya jakarta, chris
kudatangi negeri-negeri asing
persinggahan tak terhingga
dalam mimpiku
seorang yang mabuk kata-kata
menulis surat untukmu:
“inilah negeri itu,
kita bertatap mata,
rindu sekali”
depok, 1999

DUA PULUH EMPAT SENJA 
tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh
empat senja, lilin yang nyala
depok, 5 nopember 1999
ROMANTISME MUSIM
:dp
Aku serasa mencium musim-musim
Bertumbuhan dalam udara
Kemarau yang hijau
Gerimis yang manja
Salju yang tulus
Daun jatuh di musim gugur
Kau ciptakan lagi dongeng
Dalam hatiku yang jauh
Mungkin telah padam
Di hembus angin
Ingatan pada engkau
Cinta, segurat luka
Tapi kucium musim
Melambai dari sunyi
Wajahmu
depok, 1999

INTRO
aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka
terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada
mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka,
berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
tak bisa sembunyi
pura-pura

CATATAN PADA GERIMIS
buat: dp
Pada dering, mungkin gerimis
Menyapa wajahmu
Harap yang ditumbuhkan
Katakan saja, bahwa kita membutuhkan
Mimpi itu
Menjelma
Seperti dikabarkan langit
Ketentuan itu
Seperti rimis
Menyentuh
Hidungmu
Seperti dulu
depok, 1999

TERJEMAH HUJAN
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ……
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
cilegon-depok, 1999

SEMARAK CAHAYA
Melintas Insanul kamil
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat
Sanggupkah ditatap
Semarak cahaya: O Cinta
Pecinta menari dalam kerinduan:
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,
Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, …..
Cahaya O Maha Cahaya
Cinta O Maha Cinta
Berjumpa
Di hati
Sendiri
depok, 1999
 TARIAN PECINTA
O Pecinta
Menarilah menari
Berputar-putar
Dengan gemulai
Keindahan Cinta
Ada yang berputar dalam atom
Ada yang berputar dalam masjidil haram
Bumi berputar
Planet berputar
Galaksi berputar
Alam Semesta berputar
Dalam Cinta
depok, 1999
INTERTEKS
Ke dalam dada merasuk teks-teks purba
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam
Teks terbuka
Pada kitab suci
Pada alam semesta
Manusia mencari hikmah
Di balik yang nyata
Ada banyak tanya
Rahasia
depok, 1999
POTRET PANORAMA KERINDUAN
Bacalah dengan hatimu, keindahan
Panorama sekeliling,
Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap
Puisi
Tapi ada yang ingin berbagi
Cerita
Karena manusia adalah
Cinta
Karena semesta adalah
Cinta
Dipahat kerinduan pada
Maha Cinta
depok, 1999
DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA
mata, pada pelupuk, dicium angin,
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, …..
hidup menjadi lorong-lorong
cahaya di ujung
pada berkas
ada harap
mungkin kekalahan juga
atau sesal
mengendap
pada tatap
atau malam
yang ratap
tapi gapai tak sampai
tangis tak usai
terjemah kehendak
atau takdir
tuhan

                                   cilegon-depok, 1999
PADA MATA KANAK
mungkin pada kanak kau temukan harapan,
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.
mata bening yang menghibur hatimu duka
tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,
yang mengajari mereka cara membunuh
belajar pada dentum, headline yang tebal,
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?
kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi
dapatkah lari dari kehancuran
begitulah kita bermimpi…
seperti kuarungi
matamu
depok, 1999

ILUSI LELAKI
“adakah sedikit saja, untukku,” mungkin ilusi,
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung
cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia
mungkin namamu, mungkin bukan namamu,
tapi engkau yang tersedu,
memecah sunyiku
depok, 1999
REPORTASE NOL-NOL
serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,
helaian kertas, seonggok…
kau bunga?
hm, ke mana harummu!
depok, 1999

COBA TOREH
coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?
(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan
minumlah…)
tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,
seperti?
api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?
tatap matamu, sungguh
menyilaukan
depok, 1999
AKU BERLINDUNG PADA ALLAH
aku berlindung pada Allah,
dari kebodohan napsu,
yang dihembuskan setiap detik waktu,
aku berlindung pada Allah,
dari kesesatan pikiran,
yang merajalela
aku berlindung pada Allah,
dari segala kegamangan,
aku berlindung pada-Mu
sungguh,
jangan tinggalkan aku
depok, 1999

DZIKIR TELEVISI
pada petang menangkup
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi
selewat adzan, bersambung nyanyi
pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat
pada gelas, didawamkan tipu daya
pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja
inikah hamba yang mengharap sorga?
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?
Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri….
depok, 1999

HUJAN YANG TURUN SENJA HARI
mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,
mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,
begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa
sebagai bayang-bayang samar,
sebuah kesaksian, sebuah impian
mungkin hanya itu milik kita
depok, 1999

GURATAN PUKUL 23.55
apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu
kaukah manusia yang merugi?
kemarin dan hari ini telah terjalani,
pada neraca akan terlihat
dan esok? masihkah kita melihat matahari
terbit dari timur
tak kutahu. sungguh tak kutahu
Depok, 2 Desember 1999

BIOGRAFI PENYAIR

        buat: arisel ba
Puisi telah mengalir dalam tubuh
Sebagai darah
Helaan napas
Ketukan jemari
Menuju Yang Satu: Allah
Di balik kata ada hikmah
Asam garam kehidupan
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru
Ada seorang menulis sajak
Ia menuliskan hidupnya yang puisi
depok, 1999

KAMERA
 buat: fudzail
Wajah bangsa dipotret, mungkin redup
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai
Mungkin malu
Atau kesakitan
Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana
Ada seorang memotret, dengan jemarinya
Mungkin wajah kita di situ
depok, 1999

SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?
 buat: tehrani faisal
Sepatu itu masih datang,
Padamu?
Dengan derap
Yang mungkin menggetarkan lantai
Tapi tidak hatimu
Karena kekuasaan manusia
Bukan untuk ditakutkan
Karena suara sepatu
Hanya derap menggetarkan pada jalanan
Tapi tidak hatimu
Ada kawanku,
Dengan keberanian
Meyakini itu
depok, 1999

GUMAM PUKUL 23.15
sebentar lagi, ya sebentar lagi,
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu
“ternyata kita tak lebih baik,” katamu
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia
ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak
ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai
penuh cinta, pada dongeng wonder land
tapi  ia akan datang juga
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi
menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya
tak berkedip, tak berkedip
mari kita tidur saja, semoga perompak itu
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita
malam ini
depok, 1 Desember 1999

DONGENG Y2K PUKUL 23.35
merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu
jam akan datang pada abad 00.00
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)
cahaya itu begitu menyilaukan
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)
“halo…halo..james,
h…a…aa..l…o ma…i…h di …siiitu?”
krrrrreeeezzzzzssskkk
mungkin itu, gemerisik terakhir
dari pesawat telponmu
depok, 1 Desember 1999

DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
malang, 11 oktober 1999

SUPERMAN
buat: tomita dan suhra
1.
“aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran”, kata kanak dengan
mata berbinar,
mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti
louis & clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash
gordon, ….
“aku ingin jadi super man”, kata seseorang
aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: “kita telah membunuhnya”
dan aku tak percaya bualnya
2.
dan ia datang padaku, membisikkan: “telah diringkus promotheus, dan ia
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api”*


SEPOTONG SENJA DI KOTAMU
buat: medy
ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,
aku tatapi senja, “aduh seno, jangan kau potong senjaku… biarlah
alina..biarlah.” senja begitu indah, cahaya disela awan,
bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti
mimpi
depok, 1999

LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA
kenangan untuk: raymond valiant
malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?
“aku ingin lari dari belenggu harapan,” kata kinyur menunjuk erich fromm.
“dimanakah engkau wanitaku?” dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti
willy
ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya
ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala…
(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)
depok, 1999

KAUKAH PEREMPUAN ITU
kau menyeru: “ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*”
kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,
dengan jemarimu, yang luka
ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi
tentang clitoris yang dipotong habis,
aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, …..
ia manusia, dan
aku mencintainya
depok, 1999

DONGENG NEGERI DONGENG
pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,
rabu yang ditakik? tarji tergelak
ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur…
tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak…
tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?
sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana…
heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy
duduk di samping seonggok jagung…
dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan
tenggelam….
seperti
matanya
depok, 1999

DONGENG NEGERI
Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku
Impian Kosong
Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan
Kita Tak Berada Dalam Surga
Dari Barat Sampai Ke Timur
Itukah Milik Kita?
Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?
Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?
Jangan Lagi Bicara
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari
Jakarta, 1999
CATATAN 12 MEI 1998
Anak Muda Tak Tahu Apa
Menganga Luka
Dari Senjata Siapa?
CATATAN 13-14-15 MEI 1998
Apa Yang Harus Ditulis
Dari Tubuh Terbakar
Hangus
Perangkap Menjebak
Orang Lapar
Seperti Tikus Menggelepar
Ditelan Panas
CATATAN 20 MEI 1998
Bapak, Kami Sudah Bosan
Dengan Segala Dusta
Turunlah Segera!
 AMBON
Dua Saudara Berhantam
Siapa Tertawa?
ACEH (1)
Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
ACEH (2)
Sepatu Lars Hitam,
Topi Hijau
Di Tengah Pekik Ketakutan
PETAKA (1)
sepotong roti
serentetan tembakan
senyum
siapa?
di lorong gelap
malam serasa kelam
walau api menyala
di mana-mana
jakarta, 1999
PETAKA (2)
ada yang dipecahkan, dari kenanganmu
sumpah pada kebenaran, kesejatian
“berbahasa satu bahasa kebenaran!”
lalu siapa khianat?
pat gulipat di balik punggung
tak kutahu bahasa uang
tapi molotov
siapa yang nyalakan?
jakarta, 1999

CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU
bapak ibu, lelehan darah dan airmata
menggenang di aspal hitam,
kau catat di buku harianmu?
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,
priok
mungkin kau tahu
mungkin kau tak ingin tahu
jakarta, 1999
GUGURAN BUNGA
temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di
tangannya segenggam roti,
tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di
kampusnya,
hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,
entah ke mana?
siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya…
bunga yang gugur
bunga yang sedang mekar
tak kau catat pula di hatimu?
jakarta, 1999
TELEVISI OKTOBER
mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan
petasan atau ucapan syukur:
“interupsi!”
itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang
diskusi. janji di kerumunan kampanye.
“interupsi!”
lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu
dikalahkan terus…
“interupsi!”
ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!
“interupsi!”
jakarta, 1999

OBITUARI
lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,
orang sendiri membaca diri,……..
lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter
benyamin, adorno,……
obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!
1999


sajak buat suhra
kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!
tapi tergenang cerita masa ke masa
ada yang menari, suhra, di langit
mungkin bidadari
mari ke mari, bintang biruku
sebelum maut berpaut
: ada senyum
juga cahaya
terang sekali

MENCATAT PERPISAHAN
buat: fudzail
apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,
ucapkan syukur atas segala yang terberi…
“tapi aku akan merindukanmu”, katanya mengusap mata
sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: sayonara…sayonara..
sampai berjumpa pula, buat apa susah…buat apa susah…susah itu tiada
gunanya
SERIBU BULAN
ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena
manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena
mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin
tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang
dan lurus
duh gusti, ajari aku, menjadi…

HAI, KATAMU (I)
hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang…
“hebat, bisa terbang”, katamu
lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?
“emang di bulan ada coklat?”, katamu menggoda
lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, …. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa
kita bergenggaman jemari. bergenggaman….

HAI, KATAMU (II)
hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!
aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?
sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu…
kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi…
HAI KATAMU (III)
hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena….
kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar…
neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!

PANORAMA KEMATIAN
engkau tersedu? waktu telah menutup
mungkin bunga di tabur
tonggak ditancapkan
serupa ingatan? musim berguguran
beringsut mendekat
perlahan menuju
engkau kekasihku? wajah dipalingkan
duh, rindu tak sampai
lintasan tak usai
karena nyala? usia dihabiskan sia-sia
depok, 1999

SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG
karena manusia ingin kuasa
jangan lagi, kau letuskan pada hari
dustamu melantakkan kepala & dadaku
apa arti manusia bagimu? daging hidup!
pada gelembung ludah, dicipta mimpi
teror menghantu, ladang-ladang mayat
duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
TANYA
ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat
karena telah dikutuk laknat
siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan
resah manusia
sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian
busuk dan buruk
mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa
karena
tanya

KOTA YANG KEHILANGAN
kemudian kota-kota berguguran,
kehilangan cinta
di mana kau sembunyikan?
tak ada mimpi di sini,
milik penyendiri
di mana kau letakkan?
pada geriap rambut,
atau teduh mata
di mana kau simpan?
pada telapak sepatu
atau bianglala
di mana kau tuliskan?
sebaris sepi
atau kerinduan
duh, mengapa rahasia juga?
tanya manusia
tanya manusia!

=aiueo? kosa kata=
apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!
tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!
meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!
begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!
: tak henti-henti meruntuh

=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=
kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:
tiada!
kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara
kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa
takut siapa? nyala!

BERHENTILAH!
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam
begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara
metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur
berhentilah!
GERIMIS DI HUTAN
buat: yono
sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap…
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara
dari kesunyian
tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat
bayang-bayang melintas, panorama
dari kegundahan
biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti
sepi

Sila ditengok juga:

Link Jaringan

Link Jaringan

Twitter: @penyaircyber @pasaridea @puisinanangs @twitpuisi

 

Hello world!

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!